Research Repository of UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Muhammad Rasyid Ridha antara modernisme dan tradisionalisme

Harahap, Sumper Mulia (2014) Muhammad Rasyid Ridha antara modernisme dan tradisionalisme. Fitrah: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Keislaman, 8 (2). pp. 253-268. ISSN 2442-6997

[img]
Preview
Text
Sumper Mulia Harahap.pdf

Download (489kB) | Preview
Full text available at: http://jurnal.iain-padangsidimpuan.ac.id/index.php...

Abstract

Modernisme dalam masyarakat Barat mengasumsikan pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk merubah pemahaman, kebiasaan, dan lembaga begitu lama untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru yang dibawa oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Ide ini muncul di Barat dengan tujuan menyesuaikan ajaran ditemukan di Katolik dan Protestan dengan ilmu pengetahuan modern. Aliran ide dan akhirnya menyebabkan munculnya sekularisme dalam masyarakat Barat.Modernis Islam adalah sebagai orang yang melakukan upaya sadar untuk merumuskan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam (nilai-nilai Islam) sesuai dengan pemikiran modern atau mengintegrasikan ide-ide dan institusi dalam Islam modern. Hal ini dianggap sebagai upaya untuk membuat Islam fleksibel dan orang dapat berperan dalam arus yang mengalir modernitas erat. Upaya ini adalah untuk menciptakan lintang bagi umat Islam dan bisa keluar dari klaim, stagnan, tidak beralasan dan konservatif.Sementara itu, tradisionalisme Islam, kadang-kadang disebut Islam tradisional, meliputi arti luas. Islam tradisional diyakini otentik. Ini berisi kesucian tradisi, keabadian, kebenaran yang pasti; kebijaksanaan abadi, dan juga penerapan prinsip-prinsip berkelanjutan abadi pada kondisi yang beragam ruang dan waktu. Sebuah tradisionalis dapat didefinisikan sebagai orang yang telah melakukan syariah adalah sumber dari semua ajaran agama dan moralitas.Rasyid Ridha (1865-1935) dikenal sebagai pemikir tradisionalis karena ide-idenya dan keinginannya untuk mendirikan sebuah lembaga kekhalifahan. Ini hidup pada dunia Islam menghadapi munculnya imperialisme Barat dan kolonialisme sementara pesanan politik Islam tradisional hancur. Setelah kekalahan dari dinasti Ottoman dalam Perang Dunia I dan munculnya Kemalisme di Turki, Turki Grand Majelis Nasional memutuskan pada tahun 1924 untuk membubarkan kekhalifahan. Peristiwa ini menyebabkan krisis identitas dan memberikan makna politik bagi umat Islam, dan mendorong munculnya gerakan-gerakan Islam seperti gerakan Salafi dan Khilafah.

Item Type: Article
Subjects: 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2204 Religion and Religious Studies > 220403 Islamic Studies > 22040306 Islamic philoshophy
Depositing User: Yusri Fahmi
Date Deposited: 09 Oct 2017 02:49
Last Modified: 14 Aug 2019 23:44
URI: http://repo.uinsyahada.ac.id/id/eprint/35

Actions (login required)

View Item View Item